Kekhawatiran Naik, Penipuan Seluler Berbasis AI Ancam Musim Belanja Liburan

Periode belanja online tersibuk dalam setahun, termasuk Black Friday dan musim liburan, kini dibayangi oleh meningkatnya kekhawatiran konsumen Indonesia terhadap ancaman penipuan seluler berbasis kecerdasan buatan (AI).

Data terbaru dari laporan tahunan kelima Appdome, Consumer Expectations of Mobile App Security Report, menunjukkan bahwa penipuan sintetis, pencurian identitas, dan penipuan berbasis AI telah menjadi alasan utama mengapa konsumen Indonesia memilih untuk meninggalkan atau menghapus aplikasi seluler.

Laporan yang untuk pertama kalinya menyertakan konsumen Indonesia ini mencerminkan peningkatan risiko penipuan yang diamati secara global. Riset tersebut menyoroti bagaimana lonjakan transaksi berkecepatan tinggi selama musim liburan menjadi target ideal bagi para penipu.

Temuan kunci dari Appdome menunjukkan tingkat kekhawatiran. Sebanyak 56,7% konsumen Indonesia paling takut terhadap penipuan sintetis saat berbelanja melalui perangkat seluler. Lalu 40,7% mengakui telah menghapus atau meninggalkan aplikasi karena kekhawatiran akan pencurian identitas. Secara keseluruhan, 75,3% konsumen telah meninggalkan aplikasi akibat masalah privasi atau keamanan.Ancaman AI dan Paradoks Kepercayaan

Pada tahun 2025, penipuan berbasis AI—seperti persetujuan pembayaran deepfake, serangan vishing, dan pengambilalihan akun berbasis bot—telah menjadi pemicu utama penipuan seluler. Uniknya, di tengah ancaman ini muncul ‘Paradoks AI’, dengan 81,5% konsumen Indonesia melihat AI sebagai peluang, namun 90% di antaranya berharap aplikasi dapat secara aktif memblokir ancaman berbasis AI.

Author: sp4in2br4in

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *