BRIN Siapkan Soket Pengisian Daya Motor Listrik Standar Nasional

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginisiasi pengembangan plug dan socket berstandar nasional (SNI) untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda dua. Hal ini sebagai upaya mendorong interoperabilitas sistem pengisian daya dan mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana, mengatakan belum adanya standar plug dan socket menjadi persoalan mendasar dalam pengembangan infrastruktur pengisian kendaraan listrik roda dua, khususnya untuk pengisian cepat (fast charging).

“Masalahnya sekarang, motor listrik merek A bisa ngecas di stasiun pengisian A, tapi belum tentu bisa di (stasiun pengisian) B atau C, karena setiap merek memiliki sistem dan protokol pengisian yang berbeda. Oleh karena itu, kata kuncinya interoperabilitas,” ujar Eka, saat diwawancara Humas BRIN, Kamis (29/1).

Menurutnya, tanpa standardisasi plug dan socket, pengguna kendaraan listrik akan terus menghadapi risiko tidak kompatibelnya kendaraan dengan stasiun pengisian yang tersedia, terutama saat berkendara jarak jauh.

Eka menjelaskan, secara global adopsi kendaraan listrik masih relatif lambat. Berdasarkan berbagai kajian, terdapat tiga faktor utama yang menjadi penyebabnya. “Pertama, infrastruktur pengisian itu sedikit, bukan hanya jumlahnya tapi juga masalah koneksi internet. Kedua, biaya perawatan kendaraan listrik itu relatif mahal, khususnya terkait dengan komponen baterai. Ketiga, orang khawatir berkendara jarak jauh dengan kendaraan listrik,” katanya.

Ia menambahkan, sistem pengisian kendaraan listrik tidak bisa berdiri sendiri karena harus terhubung dengan sistem pembayaran. “Pengguna harus tahu dia mengisi berapa kilowattjam (kWh) dan berapa yang harus dibayar. Itu sebabnya pengisian harus terhubung ke internet,” ujar Eka.

Di Indonesia, perkembangan KBLBB sebenarnya menunjukkan tren positif. Mengutip data Direktorat IMATAP Kementerian Perindustrian, hingga akhir 2025, jumlah kendaraan listrik telah menembus sekitar 333 ribu unit, dengan sepeda motor listrik mencapai lebih dari 225 ribu unit. “Secara angka tidak jelek. Memang tidak mencapai target, tapi masih on the track dengan kondisi saat ini,” kata Eka.

Namun, untuk kendaraan roda dua, infrastruktur pengisian masih tertinggal dan kebijakan lebih banyak menekankan pada skema penukaran baterai melalui Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU).

Eka menilai, pendekatan tersebut mulai menghadapi tantangan seiring pergeseran tren motor listrik roda dua di Indonesia. Jika sebelumnya didominasi motor dengan baterai tukar, kini mulai berkembang motor listrik dengan baterai besar yang tertanam dengan kemampuan jarak tempuh hingga 150 kilometer untuk sekali pengisian. “Motor yang baterainya besar ini tidak bisa ditukar. Berat baterainya bisa 20 sampai 25 kilogram, dan itu berbahaya kalau ditukar,” ujarnya.

Author: sp4in2br4in

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *